Arsip

(Lagi-lagi) Soal Selaput Dara, Keperawanan

Yth. Ibu Rieny,

Hati saya tergerak menanggapi surat Ibu Annisa, somewhere, yang di muat di Nova No.1153/XX111, Maret 2010 lalu. Nilai-nilai kesucian seorang wanita di mata laki-laki dan juga dan juga sebagian besar masyarakat masih tetap sama, bahwa wanita baik-baik dan bermoral salah satu cirinya adalah tetap perawan sampai malam pertama.

Sayangnya, sebelum pernikahan terjadi, pihak laki-laki dan juga orang tua serta kerabatnya hampir tidak pernah mengutarakan secara terang-terangan. Keributan terjadi kalau malam pertama tidak sesuai dengan harapan lelaki. Padahal, penilaian dia pun cuma didapay dari cerita saja.

Sementara dipihak wanita, sekarang ini persiapan menghadapi pernikahan sudah lebih baik, karena pengetahuan tentang seks sudah lebih terbuka. Berlainan dengan generasi terdahulu, dimana membicarakan seks di anggap “omong jorok”, kebanyakan wanita juga di nikahkan denga pilihan orang tua. Tentu saja, bagi mereka, menghadapi malam pertama akan dipenuhi perasaan tegang dan takut.

Banyak kemajuan dalam pikir kita, nyatanya penilaian malam pertama terkait dengan keperawanan seperti zaman dahulu itu tetap saja terjadi saat ini. Sehingga masih banyak wanita menjadi korban salah penilaian dari suaminya yang penuh prasangka tapi minim informasi. Kendati sudah diteangkan panjang lebar, tetap saja stigma harus berdarah di malam pertama melekat begitu kuat. Mungkin laki-laki perlu mendapatkan kursus pra termasuk pelajaran anatomi vagina, ya bu.

Untuk para wanita, suka tidak suka, wanita yang sudah tidak suci lagi selalu dianggap barang bekas atau sampah. Kesucian seorang wanita merupakan kebanggan dan harga diri bagi calon suaminya. Karena anggapan seperti inilah, kalau lelaki mengetahui caclon istrinya tidak suci lagi, biasanya dia mundur teratur, berubah perangai terhadap istrinya karena merea telah membeli “kucing dalam karung”. Lanjut membaca