
Rektor Fakultas Usuluddin Universitas Imam Shadiq, Mohammad-Reza Mohammad-zadeh menyatakan, “Syahid Muthahhari termasuk di antara sekelompok orang yang memiliki kelayakan dalam memberikan penilaian terhadap filsafat Islam dan Barat.”
Dalam wawancaranya dengan Fars News (1/5), Mohammad-zadeh mengatakan, Syahid Muthahhari sebagai tokoh yang berperan penting dalam berbagai pembahasan filosofis dan teroritis dalam sejarah kontemporer Iran, tidak hanya memfokuskan perhatian dan telaahnya kepada garis pemikiran dalam peradaban Islam saja melainkan juga memperluas jangkauan telaahnya hingga ke dalam filsafat Barat dan mengkritiknya.
Menyinggung fakta bahwa Syahid Muthahhari termasuk di antara segelintir tokoh dan cendikiawan Islam yang layak untuk memberikan penilaian terhadap filsafat Barat dan Islam, Mohammad-zadeh mengatakan, “Ketika kata filsafat mengemuka, kita harus memperhatikan bahwa filsafat merupakan sebuah kriteria trans-regional dan waktu serta merupakan bagian dari pengetahuan umat manusia yang menjawab bergai persoalan kunci.”
Momhammad-zadeh mengatakan, para pemikir Muslim dan non-Muslim menghadapi berbagai pertanyaan fundamental ketika mereka berhadapan dengan filsafat. “Para filsuf menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan tingkat kemampuan analisa dan berpikir mereka masing-masing. Oleh karena itu, filsafat berdiri di atas pilar-pilar berbagia pertanyaan tersebut.”
Seraya menekankan bahwa filsafat adalah sebuah ulmua yang mengandung akumulasi pertanyaan tentang hakikat alam, akhir dari alam semesta, dan makrifat manusia, Mohammad-zadeh mengatakan, “Jika kita mencapai dapat memberikan jawaban proporsional terhadap hakikat yang menyangga berdirinya filsafat tersebut, maka tidak ada bedanya bila filsuf tersebut Muslim atau non-Muslim, karena pada dasarnya filsafat berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.”
Seraya menjelaskan pendapat kuat Syahid Muthahhari dalam hal ini, Mohammad-zadeh mengatakan, “Pertanyaan-pertanyaan filsafat itu selalu bergulir di sepanjang masa di antara para filsuf Barat maupun Timur, termasuk para filsuf di negara-negara Islam. Mreka semua berusaha untuk memberikan jawaban pasti terhadap berbagai pertanyaan fundamental. Jawaban tersebut harus sedemikian kuat baik dari sisi logis, ketentuan, maupun parameternya. Oleh karena itu tidak ada pembagian filsafat Islam dan non-Islam.”
Menurut Syahid Muthahhari, pembagian jawaban dari para filsuf Muslim dan non-Muslim adalah dari segi titik kuatnya. Karena jawaban yang diberikan oleh para filsuf Muslim lebih kokoh di banding jawaban para filsuf non-Muslim.
Akan tetapi di sisi lain, menurut Mohammad-zadeh, Syahid Muthahhari mengakui bahwa terkadang jawaban dari filsuf Muslim terkait sejumlah pertanyaan sangat terpengaruhi pemikiran dan ideologi non-Muslim. Syahid Muthahhari tidak menilai hal tersebut sebagai kelemahan dan oleh karena itu beliau tidak meyakini adanya pembagian filsafat Islam dan non-Islam.
Dijelaskannya, “Para cendikiawan Muslim di sepanjang sejarah berusaha untuk berinteraksi dengan pembahasan ilmiah pihak dan peradaban lain, dalam dalam prosesnya mereka bukan hanya menerima, karena para cendikiawan Muslim dalam hal ini selalu berusaha mencari terobosan baru. (IRIB)