Archive by Author |

Syarah Doa Bulan Rajab (Bagian Pertama)

Oleh: Saleh Lapadi

Ada tiga bulan dalam Islam yang mendapat perhatian khusus; bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Banyak riwayat yang menyebutkan tentang keutamaan tiga bulan ini. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Bulan Rajab adalah bulan Allah. Tidak ada bulan yang punya kehormatan dan keutamaan sepertinya. Berperang di bulan ini hukumnya haram. Rajab adalah bulan Allah dan Sya’ban adalah bulanku, sementara bulan Ramadhan adalan bulan umatku. Barangsiapa yang berpuasa di bulan ini akan membuat Allah gembira dan kemarahan-Nya akan menjauhinya serta pintu dari pintu-pintu neraka ditutup untuknya.”

Hadis ini menunjukkan ketinggian dan keutamaan bulan Rajab. Satu dari amalan penting di bulan ini adalah membaca doa bulan Rajab setiap selesai melaksanakan shalat. Tulisan ini merupakan syarah ringkas tentang doa ini. Lanjut membaca

Biografi Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei

“Carilah seorang seperti Khamenei yang komitmen terhadap Islam,

pengkhidmat, dan yang hatinya berpikir melayani bangsa ini,

tentu kalian tidak akan mendapatkannya.

Aku telah mengenalnya bertahun-tahun”.

Imam Khomeini r.a

 

 

 
Kelahiran hingga sekolah

Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, putra almarhum Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Sayyid Javad Husaini Khamenei, dilahirkan pada tanggal 24 Tir 1318 Hijriah Syamsiah (16 Juli 1939) atau bertepatan dengan tanggal 28 Shafar 1357 Hijriah di kota suci Mashad. Beliau adalah putra kedua. Kehidupan Sayyid Javad Khamenei sangat sederhana sama seperti kebanyakan ulama dan pengajar agama lainnya. Istri dan anak-anaknya memahami secara mendalam makna zuhud dan kesederhanaan dengan baik berkat bimbingannya. Ketika menjelaskan kondisi kehidupan keluarganya, Rahbar mengatakan, “Ayah saya adalah ulama yang terkemuka, namun sangat zuhud dan pendiam. Kehidupan kami cukup sulit. Saya teringat, sering di malam hari kami tidak memiliki apa-apa untuk dimakan! Ibu saya dengan susah payah menyiapkan makan malam… hidangan makan malam itu adalah roti dan kismis”.

“Rumah ayah tempat saya dilahirkan -hingga saya berusia empat sampai lima tahun- berukuran 60 – 70 meter persegi di kawasan miskin Mashad. Rumah ini hanya memiliki satu kamar dan sebuah ruang bawah tanah yang gelap dan sempit. Ketika ayah saya kedatangan tamu (karena ayah saya adalah seorang ulama dan menjadi rujukan masyarakat, beliau sering kedatangan tamu) kami pergi ke ruang bawah tanah sampai tamu itu pergi. Kemudian beberapa orang yang menyukai ayah saya membeli tanah di samping rumah dan menggabungkannya dengan rumah kami sehingga rumah kami memiliki tiga kamar”.

Seperti inilah beliau dibimbing dan sejak usia empat tahun Rahbar bersama kakak beliau yang bernama Sayyid Mohammad diserahkan ke maktab untuk mengenal alpabet dan belajar membaca AlQuran. Setelah itu, kedua bersaudara ini melalui jenjang pendidikan dasar mereka di sekolah Islam yang saat itu baru dibangun “Daar At-Ta’lim Diyanati”.

Di Hauzah Ilmiah

Setelah mempelajari Jamiul Maqaddimat, ilmu sharf dan nahwu, beliau masuk ke hauzah ilmiah serta belajar ilmu-ilmu dasar dan sastra dari ayah beliau dan para guru lainnya. “Faktor dan alasan utama saya memilih jalan bercahaya keruhanian ini adalah ayah saya dan ibu saya yang selalu mendukung saya.”

Beliau belajar ilmu tata bahasa Arab Jamiul Muqaddimat, Suyuthi dan Mughni dari para guru di madrasah Sulaiman Khan dan Navvab. Sang ayah mengawasi terus dan memantau perkembangan pendidikan anaknya. Pada masa itu Sayyid Ali Khamenei juga mempelajari buku Ma’alim. Kemudian beliau belajar kitab Syarai’ Al Islam dan Syarh Lum’ah dari sang ayah dan sebagiannya dari almarhum Agha Mirza Modarris Yazdi. Untuk kitab Rasail dan Makasib, beliau menimba ilmu dari almarhum Haj Syeikh Hashim Qazveini, dan pelajaran lainnya di jenjang fiqih dan ushul, beliau dibimbing langsung oleh sang ayah. Beliau melalui tingkat dasar itu sangat cepat hanya dalam kurun waktu lima setengah tahun. Ayah beliau pada masa itu berperan sangat besar dalam perkembangan anaknya. Sayid Ali Khamenei berguru pada almarhum Ayatullah Mirza Javad Agha Tehrani di bidang ilmu logika, filsafat, kitab Mandzumah Sabzavari, dan kemudian beliau juga belajar dari almarhum Syeikh Reza Eisi. Lanjut membaca

13 Jumadil Tsani, Ummul Banin, Istri Imam Ali as Wafat

13 Jumadil Tsani, setelah bertahun-tahun ditinggal oleh istrinya, Sayidah Fathimah az-Zahra as, Imam Ali as menikah dengan Fathimah Kilabiyah, lewat usulan saudaranya, Aqil yang merupakan ahli nasab yang mengetahui dengan baik keturunan Arab. Dari Fathimah Kilabiyah ini, Imam Ali as dikaruniai empat orang anak laki-laki; Abbas, Jakfar, Abdullah dan Utsman. Karena melahirkan empat orang anak laki-laki, akhirnya Fathimah Kilabiyah dijuluki Ummul Banin yang berarti ibu dari anak-anak laki.

Keempat anaknya mereguk cawan syahadah dalam peristiwa Karbala, dan ibu mereka tampak tegar dan sabar menghadapi cobaan ini.

Ketika beliau mendapat informasi tentang peristiwa Asyura, beliau membawa Ubaidullah, anak Abbas ke kuburan Baqi’ dan membacakan puisi memuji anak-anaknya. Rakyat Madinah yang mendengarkan puisi yang dibacakan Ummum Banin berkumpul di Baqi’ dan menangis bersama beliau. Ummu, Banin tiga tahun pasca peristiwa Asyura, tepatnya tanggal 13 Jumadil Tsani 64 Hq meninggal dunia di Madinah dan dimakamkan di kota ini. (IRIB Indonesia)

Muthahhari dan kebangkitan Islam

Atmosfer sosial manusia dipengaruhi oleh berbagai peristiwa besar maupun kecil, seperti gelombang laut yang diguncang badai. Dalam konteks kehidupan sosial masyarakat, gelombang sosial yang paling hidup adalah gerakan religius yang berasal dari substansi kehidupan dan fitrah manusia.

Gelombang kebangkitan Islam di Timur Tengah yang disertai pekikan Allahu Akbar merupakan contoh nyata dari gerakan tersebut. Kebangkitan rakyat di negara-negara Islam tidak muncul simsalabim, tapi melalui sebuah proses yang telah disiapkan sebelumnya. Para pemikir dan ulama memainkan peran besar dalam independensi bangsa-bangsa dunia, dan menghidupkan pemikiran agama dalam konteks kekinian.

Syahid Muthahhari merupakan salah satu pemikir yang telah menghadiahkan kehidupannya untuk menghidupkan agama di era modern dewasa ini. Ia dikenal sebagai orang yang sangat cerdas, santun dan tinggi ilmunya. Beliau mempersembahkan kehidupannya demi kemuliaan umat manusia.

Syahid Muthahhari lahir tanggal 13 Bahman 1298 HS(3 Februari 1920) di Fariman, Provinsi Khorasan dalam sebuah keluarga agamis. Beliau menyelesaikan masa kecilnya di Fariman dan menamatkan sekolah dasar di sana. Pada usia 12 tahun beliau pergi ke Mashad dan belajar di hawzah ilmiah. Kemudian melanjutkan pendidikannya ke Qom. Selama 15 tahun tinggal di Qom beliau belajar pada Ayatollah Boroujerdi, Imam Khomeini dan Allamah Thaba’thaba’i.

Syahid Muthahhari piawai menjelaskan berbagai dimensi Islam kepada generasi muda. Di bidang yang digelutinya ini Syahid Muthahhari berhasil menarik banyak pemuda dan kalangan akademik untuk mengenal keindahan pemikiran Islam.

Karakteristik yang membedakan Syahid Muthahhari dari para pemikir lainnya adalah beliau berbicara dengan bahasa kontemporer dan menguasai fenomena yang ada dalam bingkai situasi dan kondisi kekinian. Dengan mencermati sebagian pemikiran khurafat dan menyimpang telah mengotori wajah Islam, Syahid Muthahhari dengan penjelasan argumentatifnya berusaha menjelaskan hakikat Islam.

Selain sebagai seorang pemikir dan filosof, Syahid Muthahhari juga dikenal sebagai seorang aktifis Revolusi Islam. Ia bangkit berjuang untuk membela Islam dengan pemikiran besarnya demi menghapus penyelewengan dan upaya mencomot ajaran agama sesuai selera. Lanjut membaca

Syahid Muthahhari Tidak Meyakini Pembangian Filsafat Islam dan Non-Islam


Rektor Fakultas Usuluddin Universitas Imam Shadiq, Mohammad-Reza Mohammad-zadeh menyatakan, “Syahid Muthahhari termasuk di antara sekelompok orang yang memiliki kelayakan dalam memberikan penilaian terhadap filsafat Islam dan Barat.”

Dalam wawancaranya dengan Fars News (1/5), Mohammad-zadeh mengatakan, Syahid Muthahhari sebagai tokoh yang berperan penting dalam berbagai pembahasan filosofis dan teroritis dalam sejarah kontemporer Iran, tidak hanya memfokuskan perhatian dan telaahnya kepada garis pemikiran dalam peradaban Islam saja melainkan juga memperluas jangkauan telaahnya hingga ke dalam filsafat Barat dan mengkritiknya.

Menyinggung fakta bahwa Syahid Muthahhari termasuk di antara segelintir tokoh dan cendikiawan Islam yang layak untuk memberikan penilaian terhadap filsafat Barat dan Islam, Mohammad-zadeh mengatakan, “Ketika kata filsafat mengemuka, kita harus memperhatikan bahwa filsafat merupakan sebuah kriteria trans-regional dan waktu serta merupakan bagian dari pengetahuan umat manusia yang menjawab bergai persoalan kunci.”

Momhammad-zadeh mengatakan, para pemikir Muslim dan non-Muslim menghadapi berbagai pertanyaan fundamental ketika mereka berhadapan dengan filsafat. “Para filsuf menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan tingkat kemampuan analisa dan berpikir mereka masing-masing. Oleh karena itu, filsafat berdiri di atas pilar-pilar berbagia pertanyaan tersebut.”

Seraya menekankan bahwa filsafat adalah sebuah ulmua yang mengandung akumulasi pertanyaan tentang hakikat alam, akhir dari alam semesta, dan makrifat manusia, Mohammad-zadeh mengatakan, “Jika kita mencapai dapat memberikan jawaban proporsional terhadap hakikat yang menyangga berdirinya filsafat tersebut, maka tidak ada bedanya bila filsuf tersebut Muslim atau non-Muslim, karena pada dasarnya filsafat berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.”

Seraya menjelaskan pendapat kuat Syahid Muthahhari dalam hal ini, Mohammad-zadeh mengatakan, “Pertanyaan-pertanyaan filsafat itu selalu bergulir di sepanjang masa di antara para filsuf Barat maupun Timur, termasuk para filsuf di negara-negara Islam. Mreka semua berusaha untuk memberikan jawaban pasti terhadap berbagai pertanyaan fundamental. Jawaban tersebut harus sedemikian kuat baik dari sisi logis, ketentuan, maupun parameternya. Oleh karena itu tidak ada pembagian filsafat Islam dan non-Islam.”

Menurut Syahid Muthahhari, pembagian jawaban dari para filsuf Muslim dan non-Muslim adalah dari segi titik kuatnya. Karena jawaban yang diberikan oleh para filsuf Muslim lebih kokoh di banding jawaban para filsuf non-Muslim.

Akan tetapi di sisi lain, menurut Mohammad-zadeh, Syahid Muthahhari mengakui bahwa terkadang jawaban dari filsuf Muslim terkait sejumlah pertanyaan sangat terpengaruhi pemikiran dan ideologi non-Muslim. Syahid Muthahhari tidak menilai hal tersebut sebagai kelemahan dan oleh karena itu beliau tidak meyakini adanya pembagian filsafat Islam dan non-Islam.

Dijelaskannya, “Para cendikiawan Muslim di sepanjang sejarah berusaha untuk berinteraksi dengan pembahasan ilmiah pihak dan peradaban lain, dalam dalam prosesnya mereka bukan hanya menerima, karena para cendikiawan Muslim dalam hal ini selalu berusaha mencari terobosan baru. (IRIB)

Fatimah, Pejuang Kemuliaan dan Kesucian

Tanggal 20 Jumadil Tsani adalah hari kelahiran Sayidah Fatimah az-Zahra as. Pada tahun kelima kenabian, rumah pasangan Nabi Muhammad Saw dan Siti Khadijah as dipenuhi suasana suka dan bahagia. Di hari itu, mereka dianugerahi karunia Ilahi yang begitu berharga, kelahiran seorang perempuan agung, teladan wanita sepanjang masa, Sayidah Fatimah az-Zahra as.

Kehadiran Fatimah as ke dunia ini laksana bunga yang mekar dengan begitu indah. Semerbak harumnya membuat jiwa-jiwa yang lunglai tercerahkan kembali. Kelahirannya mengakhiri seluruh pandangan dan keyakinan batil tentang perempuan. Dengan lahirnya perempuan suci ini, Allah Swt sepertinya membukakan khazanah harta karun alam semesta kepada Rasulullah Saw. Sungguh benar apa yang dikatakan al-Quran bahwa Fatimah as adalah al-Kautsar. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu al-Kautsar, nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

Fatimah as memiliki beberapa sebutan mulia, disamping banyak nama dan sebutan lain yang disematkan pada pribadi agung ini. Di antaranya ialah; Fatimah, Zahra, Muhaddatsah, Mardhiyah, Siddiqah Kubra, Raihanah, Bathul, Rasyidah, Haura Insiyah (bidadari berbentuk manusia), dan Thahirah. Allamah al-Majlisi dalam kitab Bihar al-Anwar menukil sebuah riwayat dari Imam Jakfar Shadiq as, yang menyatakan bahwa “Ia dinamakan Fatimah, karena tidak terdapat keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali as, maka sampai hari kiamat tidak akan ada seorang pun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)”. (Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 10) Lanjut membaca

Tiga Episode dari Kehidupan Nabi Saw

“Rahasia penghambaan Nabi Saw adalah mengacuhkan kekuatan selain Allah, tidak meragukan-Nya, dan tidak memutus hubungan dengan Allah demi selain-Nya.”

Allah memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi Saw dalam seluruh aspek kehidupan. Beliau adalah teladan bagi kita, tak hanya dalam tutur katanya, tapi juga perilaku, cara hidup, cara bergaul dengan keluarga dan masyarakat, cara menyikapi kawan dan lawan, serta perlakuannya terhadap kaum lemah dan kuat.

Masyarakat Islami kita baru bisa disebut sebagai masyarakat Islami ideal setelah menyesuaikan dirinya dengan jalan hidup Nabi Saw. Jika kita tak bisa bertindak seratus persen seperti beliau, yang memang mustahil terwujud, setidaknya kita bertindak menyerupai beliau. Jangan sampai jalan hidup kita bertolak belakang dengan jalan hidup Nabi Saw.

Episode Dakwah dan Perjuangan

Saya akan berbicara ringkas tentang tiga episode penting kehidupan Nabi Saw. Tentu sudah banyak buku yang ditulis berkaitan dengan hal ini. Topik ini juga terlalu luas untuk dibahas dalam ceramah singkat seperti ini. Namun setidaknya, kita bisa memetik seikat bunga dari taman bunga kehidupan Nabi Saw, agar beliau senantiasa hidup dalam benak kita.

Episode pertama kehidupan Nabi Saw adalah dakwah dan perjuangan. Salah satu pekerjaan penting beliau adalah menyeru kepada kebenaran dan berjuang dalam seruan ini. Beliau tak pernah surut langkah menghadapi dunia kelam di zamannya, baik saat beliau sendirian di Mekah dan dikelilingi sekelompok kecil Muslimin, atau saat beliau telah mendirikan pemerintahan Islam dan menjadi pemimpinnya. Beliau tidak pernah takut menghadapi kaum arogan Arab dan Quraisy, atau kaum awam yang tak berpengetahuan. Beliau menyampaikan ajarannya, menanggung semua penghinaan, dan memikul banyak penderitaan hingga akhirnya bisa mengislamkan banyak orang. Lanjut membaca

Bangunlah Sobat…

Aku melihat beberapa orang yang mati
Malah hampir semuanya mau mati
Rupanya yang mati sang sahabat
Sahabat yang ku kenal

Kulihat darah sahabatku berceceran
Oh tidak.. ternyata benar, temanku ada yang mati
Sinar surya membuat mayatnya semerbak busuk
Aku hanya menghampiri yang mati dan bertanya-tanya

Kulihat darah mengalir keluar dari mata
Dari hidung
Juga dari telinga
Kurasa otaknya akan kering sebentar lagi

Tapi..
Belatung belum sempat tumbuh
Hanya lalat hitam yang berdesing di atas tubuh tak berguna

Lama.. kutunggu sang malaikat
Tak juga datang malaikat menjemput nyawanya
Apa yang terjadi..

Kubisikkan padanya..
“Sahabatku belum saat nya kau mati”
“Dengarlah.. zionis tertawa bangga melihat mu mati tidak-hidup tidak”
“Otakmu belum kering benar, rasakanlah..”
“Bangunlah sahabatku.. “

LOW KEY – FREE PALESTINE

This is for Palestine, Ramallah, West Bank, Gaza,
This is for the child that is searching for the answer,
I wish I could take your tears and replace them with laughter,
Long live Palestine, Long live Gaza!!

Palestine, Ramallah, West Bank, Gaza,
This is for the child that is searching for an answer,
I wish I could take your tears and replace them with laughter,
Long live Palestine, Long live Gaza!!

While we listen to tunes, made by ignorant fools,
Israel blocked the UN from delivering food,
They’ll bring in the troops and you won’t even glimpse at the news,
They make money of the products that we are quick to consume,
It’s not simply a question of differing views,
Forget emotions, this is fact, what I spit is the truth,
Makes no difference if you’re a Christian or if you’re a Jew,
They are just people living in different conditions to you,
They still die when you bomb their schools, mosques and hospitals,
It is not because of rockets, please god can you stop it all,
I’m not related to the strangers on the TV,
But I relate because those faces could have been me,
Words can never ever explain the raw tragedy,
It’s not a war they’re just murdering more rapidly,
We are automatically supporting pure savagery,
Imagine how you’d feel if this was your family,
Lanjut membaca